Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juni 2015

Semarang, 21 Maret 2015
RINDANG DALAM DOA
(Oleh: Inayah Sholihah)
Aduh, aku mengaduh.
Sakitnya sungguh.
Tangisku meluap, air matapun tak ku usap.
Resah, gundah, jiwaku mencari arah.
Anganku mengembara liar, dimana tempat bersandar.
Kenapa harus mencari.
Padahal Tuhan tak pernah lari.
Kenapa harus mengembara.
Padahal Tuhan selalu ada.
Wahai hati yang lara,
Sadarlah, Tuhan tak pernah tidur.
Sekalipun engkau lupa bersyukur.
Maka berdoalah penuh pasrah.
Sungguh cinta-Nya luar biasa.
Oh Tuhan yang menguasai hati.
Hantarkan jiwa ini dalam syahdu.
Di bawah kerlip bintang malam hari.
Aku berdoa pada-Mu.
Biarkan dingin malam menelan gersang hatiku.
Biarkan gelap malam menyinari jiwaku.
Oh Tuhan, tumpahkanlah Kasih-Mu.
Aku rindu, rindu dalam rindang.
Rindang dalam doa di atas sejadah panjang.


Senin, 24 November 2014

AGAMA ADALAH MUARA KEDAMAIAN HATI


Perjalanan hidup yang gersang, seperti alam tanpa pepohonan. Kering kerontang. Tidak ada kenyamanan, kesejukan, ketenangan, dan cinta. Seperti itulah perumpamaan hidup tanpa agama.
Golongan atheisme tidak mengenal sebuah agama. Mereka berkata tidak ada Tuhan, sebab Mereka belum mampu merasakan eksistensi Tuhan.  Tuhan memang tidak bisa dijamah oleh panca indra manusia, namun pada hakikatnya manusia bisa merasakan adanya Tuhan. Allah SWT. berfirman:
Artinya: “dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah:186)
Kedamaian cinta sulit merangkul hati seorang yang ingkar agama, Mereka selalu gagal menerima cinta dan menghargai cinta dengan semestinya. Mereka hanya mengenal cinta dunia sebagai budak nafsunya semata. Lain halnya dengan teori cinta yang berkolerasi dengan agama, makna cinta akan berbuah kedamaian, menyejukan pikiran dan memupuk perilaku menjadi serba ikhlas. Inilah kebutuhan rohani, dan agama adalah suplemen-nya.
Ada sebuah pernyataan yang mencengangkan dari tokoh sains terkenal, Einsten. Dia menyatakan bahwa dirinya mempunyai agama sendiri yang belum pernah ada di dunia! Astaghfirullah! Lalu agamanya apa? Siapa nabinya dan apa kitab sucinya?. Siapa penganutnya?. Deretan pertanyaan tentu muncul dibenak hati. Pernyataan demikian ditemukan karena Einstein mengarsipkan sebuah dokumen yang ditulis tangannya sendiri juga artikel tentang dirinya. Dia kumpulkan sekitar 400 buah dokumen. Arsip itu tersimpan pada dua tempat utama, yaitu di Institute For Advance Study di Princeton (Amerika) dan di Hebrew University di Juresalem (Israel). Sebagian lagi tersimpan rapih di Boston University (Amerika).[1]
Untuk menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan diatas, kita perlu melakukan observasi mendalam. Einstein dilahirkan dari keturunan Yahudi. Tapi ternyata Einstein bukan beragama Yahudi dan dia tidak yakin kebenaran kitab Taurat, kitab Taurat perlu dikoreksi, karena tidak sesuai dengan akal dan jalan pikirannya. Masa kecil Einstein bersekolah di sekolah Katolik, sehingga diperkirakan Einstein beragama Katolik. Namun faktanya juga bukan beragama Katolik. Lalu apa agama Einstein?.
Banyak tuduhan bahwa Einstein  adalah seorang ateis. Dia belum menemukan agama yang benar-benar rasional dan sesuai jalan pikirannya. Pencariaan Einstein mengenai eksistensi Tuhan tidak menemukan titik terang. Dan Einstein menilai kitab Taurat maupun kitab Injil tidak sesuai dengan logikanya. Apalagi mengenai  antropomorfisme (penyamaan Tuhan dengan mausia), Einstein sangat menolak keras. Suatu ketika Einstein akan dikukuhkan sebagai orang Yahudi, tapi Enstein menolak. Kejadian ini menguatkan tuduhan orang bahwa Einstein adalah ateis.[2]
Dapat disimpulkan bahwa Einstein tidak mengaku sebagai ateis dan dia masih mencari Tuhan. Siapa Tuhan yang patut dia disembah?. Berdasarkan analisanya, dia mengatakan bahwa alam semesta yang mengagumkan ini pastilah ditata dengan hukum-hukum tertentu yang belum dipahami semuanya oleh manusia. Bintang-bintang bergerak pasti ada yang menggerakkannya. Einstein meyakini adanya Tuhan dalam kehidupan.
Demikian sebuah fakta unik yang terjadi pada seorang pendekar ulung dalam fisika dan matematika. Seorang pemikir yang jenius ternyata juga haus akan spiritualitas. Dia menemui kehidupan yang tandus dan hati yang hampa. Sebab ada hal yang tersembunyi yang belum mampu dijangkau oleh otak jeniusnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia mendambakan sebuah kedamaian. Semua dapat dicapai bila kebutuhan manusia terpenuhi dengan selaras. Selaras tidak bisa dimaknai hanya dengan pemenuhan intelektual maupun material saja, seperti pada kasus Einstein. Manusia tidak akan sanggup terus-menerus menanggung kegersangan hidup. Manusia  butuh cinta. Cinta yang menenangkan hati. Dan cinta yang sempurna ada dalam naungan agama. Itulah sebabnya manusia butuh agama.


[1] Wisnu Arya Wardhana, Einstein Mencari Tuhan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008)., hlm. 1-2
[2] Ibid., hlm 103

Minggu, 16 November 2014

Saat Hati Berbicara, Cinta Tak Perlu Diantarkan

SAAT  HATI BERBICARA,
CINTA TAK PERLU DIANTARKAN
Sore hari, dua orang kawan meramaikan ruang tamu di rumah Salsa.
“Fadhlul, rasanya aku belum pernah mengenal seseorang yang bernama Fadhlul” Salsa mencoba mengingat.
“Di kelasku ada, Sa” respon salah satu temannya.
“Oh ya?, seperti apa orangnya?” gadis bertubuh mungil itu sangat penasaran.
Sering kali Salsa teringat nama itu. Di telinganya nama Fadhlul itu terdengar indah. Nama itu dia temukan dari beberapa ayat al-Qur’an yang pernah dilantunkannya. Kata “Fadhlullah” telah merayu Salsa untuk melirik maknanya. Dan akhirnya terjawab, makna kata tersebut adalah karunia Allah. Subhanallah. Indah sekali.
“Dia orangnya pandai, namun, pelit sekali untuk memberi contekan
Keterangan Ulia menggelitik hati Salsa. Bibir manisnya tersenyum. Rasa penasaranpun semakin bergemuruh.
                Perbincangan kecil kali ini menghasilkan objek penelitian selanjutnya. Entah apa yang mendasari terjadinya observasi  sembunyi. Gadis bersahaja ini hanya mengikuti perintah sederhana dari suara-suara kecil. Suara yang tak terdeteksi oleh indra telinga, namun lembut terasa. Ini adalah suara hati yang menyelinap masuk ke sanubari Salsa.
***
                Pada hakikatnya setiap wanita mencari tempat teraman tuk bersandar. Tapi jangan sembarang bersandar. Sebab ada 2 bentuk sandaran, sandaran yg melabuimu dan sandaran yg memuliakanmu. Ketepatan memilih ada pada wanita bijak.
Kata demi kata dari sebuah status facebook tertanggal 1 Desember 2011 dibaca Fadhlul dengan cermat.
“Ki, coba kamu perhatikan status wanita ini!. Menurutku berbeda sekali dengan kebanyakan status yang memenuhi beranda facebook-ku” ungkap Fadhlul kepada Riki.
“Apa yang beda?”
“Setiap statusnya itu lho, maknanya dalem banget. Kamu kenal  pemilik facebook ini?”
“Sedalam apa?, sumur? Hehe… sini gue liat. ‘Putri Salsabila’. Eh eh gue tahu tuh. Dia teman dekatnya Nia”
“Serius?. Dia orang mana?” Kejar pemuda bersarung itu antusias.
Perintah dari mana asalnya, Fadhlul tidak tahu. Tapi lebih tepatnya, ini adalah sentuhan hati. Sentuhan yang abstrak. Ada suara yang berbisik merdu. Suara itu mengajaknya untuk bertekad. Bertekad untuk bisa mengenal gadis yang bahasanya meneduhkan ruangan qalbu. Namun pertanyaannya, apakah Tuhan menghendaki?.
***
Salsa sempat ingin sejenak menutup hati. Terlalu sering Salsa menjumpai wajah-wajah dari hati yang dusta. Cinta seolah permainan yang kapan saja boleh game over dan tak menghiraukan pihak yang terluka. Terakhir, Salsa menjadi korban PHP (Pemberi Harapan Palsu) oleh seorang yang cukup lama dipercayanya.
“Dua tahun tidaklah sama dengan dua bulan. Mengapa dia tega mempermainkan hati selama itu. Dan kata-kata yang menjadi andalannya hanya, ‘Ma’af, ma’af, aku tak bermaksud menyakitimu. Dan inilah aku. Aku tidak jauh berbeda dengan lelaki yang lain. Andai kau tahu, wanita yang aku suka bukan hanya kamu, tapi dia, dia, dan dia.’ Mudah saja kau berkata demikian, tidakkah kau tahu bahwa wanita tercipta bukan untuk disakiti, bukan” hati Salsa menggerutu.
“Oh Tuhan, adakah cinta yang tak menyakitkan. Tak seutuhnya Salsa bisa merasakan cinta kasih. Engkau pisahkan pernikahan Ayah Ibu Salsa sejak kecil. Kapankah Salsa menemui cinta yang utuh, cinta yang suci karena-Mu” wajah imut Salsa basah oleh air mata.
Saat itu yang diperjuangkan Salsa adalah keyakinan. Keyakinan sempurna pada kesempurnaan skenario-Nya. Bila disikapi dengan emosional, penuh prasangka dan diperdaya perasaan, maka keindahan takdir-Nya tak akan nampak. Hiasi hati dengan sepenuhnya yakin betapa sempurna takdir-Nya.
***
“Kira-kira klop tidak ya?” sembari memprediksi antara Nita dan Fadhlul. Prediksi Ulia, diantara keduanya banyak karakter yang sama. Tidak ada salahnya jika ada niatan jadi Mak Comlang bagi Mereka. Ulia, Nita, dan Fadhlul adalah sahabat yang lama terjalin sejak seragam sekolahnya putih abu-abu. Persahabatan yang manis. Namun, Ulia pun membolehkan jika Salsa menjadi bagian dari Mereka.
Sah-sah saja memang pelaksanaan perjodohan, tapi cinta bukan perkara mudah untuk dipersatukan. Nyatanya hati Nita menolak, karena telah menemui sosok yang teduh menaungi jiwanya. Akhirnya Ulia mencoba mengenalkan dua hati yang sepi dari cinta. Yeaah, Ulia merasa ada aura serasi antara Salsa dan Fadhlul. Tapi, gimana caranya ya?. Ulia masih menemui jalan buntu. Ayal banget kalo tiba-tiba ngasih nomor HP ke Salsa. Atau tiba-tiba mempertemukan keduanya, rasanya aneh.
***
                Pasca kelulusan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) tahun 2013, beberapa Universitas dan Institusi telah menjadi kandidat pilihan Salsa. Salah satunya adalah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Target jurusan yang akan diambil adalah “Keuangan Islam”. Tentu banyak hal yang harus Salsa persiapkan.
                “Assalamu’alaikum. Ma’af, saya Salsa temannya Ulia. Bolehkah saya tanya-tanya mengenai pendaftaran di UIN Suka?”, sms dari Salsa terkirim kepada pemilik handphone yang bernama Fadhlul.
                Salsa memang membutuhkan informasi banyak tentang pendaftaran di UIN Sunan Kalijaga. Inilah sebabnya Salsa berani meminta nomor handphone Fadhlul yang statusnya sebagai peserta yang lolos seleksi SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Perkenalan  yang tanpa rencana, mungkin saja terjadi. Mungkin saja ini isyarat cinta yang ingin segera menyapa, mungkin saja suara hati yang berbisik ingin segera terdengar nyata.
                “Tit tuut …” bunyi sms berdering.
Perlahan Salsa buka pesan masuk itu dan dia baca. Wa’alaikumussalam. Iya boleh. Mau tanya apa?.
                Dari satu sms kemudian interaksi berlanjut hingga memperoleh beberapa informasi dari pemuda yang penuh kesederhaan itu. Beberapa sms terkirim dan masuk di kotak pesan.
Sungguh pemuda yang pandai memuliakan wanita. Hati Salsa tersentuh.
Bait-bait kata yang sederhana tapi bermakna. Salsa memang senang dengan bahasa yang sopan nan indah. Salsa masih sulit menafsirkan ini. Bukan sebuah syair puisi yang mempesona, hanya sebuah teks sms, namun mampu memberi nuansa damai di hati. Belum beranjak dari rasa heran. Salsa terus mencari jawaban, ini adalah  pertemuan, bukan pertemuan mata, mungkin ini adalah pertemuan suara hati. Cinta memang senang bermain teka teki. Kedatangannya tak dapat diduga. Kawanku, Ulia, boleh saja kesulitan menyatukan dua insan, tapi suara hati ternyata mampu mengantarkan cinta di satu ruang yang sama. Terkadang perbedaan suara hati mampu memisahkan cinta. Tapi kali ini, suara hati menyatukan perasaan yang sama. Yeaah, perasaan yang sama antara cinta dan cinta.


Rabu, 04 Juni 2014

Kisah Cinta Ali dengan Fatimah Azzahra
oleh *-_-*seindah cinta wanita perindu surga*-_-* (Catatan) pada 20 Juli 2011 pukul 16:33
Bismillaahirrohmaanirrohiim..
Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali.
‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.
”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.
Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.
Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.
’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ””Aku?”, tanyanya tak yakin.”Ya. Engkau wahai saudaraku!””Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?””Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”’

Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.
Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.
”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?””Entahlah..””Apa maksudmu?””Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!””Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.
Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu.”
Kemudian Nabi saw bersabda: “ Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:“ Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.”  (Kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, Bab 4). 

Senin, 26 Mei 2014

SINOPSIS NOVEL “BAIT SURAU”
Rommy, seorang laki-laki yang tak pernah menemui sebuah ruang keteduhan, kedamaian cinta yang tak pernah merangkul hatinya, Ia selalu gagal menerima cinta dan menghargai cinta dengan semestinya. Ia hanya mengenal cinta dunia sebagai budak nafsunya semata. Cinta yang selama ini dianggapnya hanya kebebasan, pergaulan yang mengumbar birahi. Tentu modalnya adalah materi. Dan bagi Rommy, materi bukanlah hal yang susah. Cinta yang menyejukan pikiran dan memupuk perilaku menjadi serba ikhlas sebenarnya merupakan kebutuhan hati setiap insan yang amat penting. Namun cinta yang dirasakan Rommy, hanya menumpuk kegelisahan, dan hatinya selalu menanggung kegersangan.
Rommy selalu merasa hak dan kebebasannya terampas, ditambah persoalan hidup  semisal permasalahan di kantor, pertengakaran dengan Bram sahabatnya, dengan saudara dan orang tuanya, terlebih pemaksaan orang tuanya yang kali ini tidak bisa dihindari Rommy. Rommy dipaksa untuk menikahi Nadia. Semua saudaranya sangat mendukung keinginan orang tuanya. Karena bila tidak, perekerjaan Rommy yang sudah mapan itu turut hilang. Barangkali inilah sumber tekanan batin Rommy. Sebab itu, kekalahannya, kebebasannya yang dirampas, bagi Rommy adalah Nadia penyebabnya. Nadia merupakan simbol kekalahannya, simbol kebebasan dari pilihannya yang dirampas. Pada akhirnya segala kemarahannya ingin Ia tumpahkan semua dan bermuara kepada Nadia, Nadia seolah menjadi keranjang sampah amarah Rommy.
Perjalanan hidup yang gersang, seperti alam tanpa pepohonan. Kering. Tidak ada kenyamanan, kesejukan, ketenangan, dan cinta. Seperti itulah perumpaman untuk kehidupan Rommy. Catatan kelam itu ingin segera dilipatnya, disimpannya rapat-rapat dalam ruang penglupaan. Diikatnya dengan tali dalam penjara pengacuhan, selamanya. Manusia tidak akan sanggup terus-menerus menanggung kegersangan hidup yang semakin menumpuk. Manusia  butuh cinta. Cinta yang menenangkan hati.
Kini, jembatan  keimanan mulai Ia telusuri. Inilah bagian dari hati kecil Rommy yang mulai diakui oleh pikiran dan rasanya. Di Desa  Samadikun di Tepi Pantai Utara, di rumah Rommy yang sederhana  Ia berlabuh untuk menemui jawaban dari sejumlah pertanyaan besar suara hati kecilnya. Bersama keluarga sederhana penuh damai dan cinta. Rommy belajar memulai kehidupan baru. Kehidupan yang jauh dengan kemewahan dan kemegahan, faktanya memang sangat berbanding terbalik dengan kehidupan sebelumnya.
Semakin hari Rommy semakin kerasan tinggal di rumah Ramdhan. Hatinya semakin tenang tidak segelisah ketika di Jakarta. Barangkali ketenangan hidup memang tidak bisa ditentukan oleh materi. Hari–harinya di rumah Ramdhan, ternyata mampu memberi jawaban yang selama ini tertunda, kehinaan karena kesombongan perlahan menyeruak hilang berganti kerinduan, sebagaimana kerinduan orang-orang pewaris Nabi.
Suatu ketika, Rommy sedang menatap nisan sisa penjualan Abah (orang tua Ramdhan) di sore itu. Perlahan punggung dan kepalanya berguncang. Rommy menangis pilu. Ada apa dengan perasaan Rommy?. Rommy semakin tidak kuat menahan kesedihan. Kesedihannya tak mungkin mengembalikan Nadia, istiriya. Dan Nadia tidak akan bisa mengisi hari-harinya lagi.
Rommy ingat malam itu, dia sangat marah. Mobil SUV-nya yang dikendarainya berjalan tidak benar. Berkali-kali dia menampar Nadia. Semakin nadia menangis ketakutan, Rommy semakin marah. Tidak puas menampar, Rommy meludahi Nadia. Masalah sebenarnya, Nadia memberi tahu bahwa ia sedang hamil dan Rommy akan segera menjadi ayah. Bukannya senang, Rommy malah marah-marah. Mobil Rommy semakin tidak menentu berjalannya.
Suara tangis Nadia semakin kencang, Tapi suaranya kalah keras oleh derum mobil dan suara rem yang kadang diinjak mendadak. Nadia berpegangan semakin keras. Hanya menangis yang bisa dilakukannya untuk mengekspresikan ketakutannya. Nadia tidak punya kesempatan memakai sabuk pengaman yang tadi lupa dipakainya. Rommy tertawa puas melihat Nadia ketakutan seperti itu. Puas melihat Nadia tidak bisa bicara lagi. Nadia semakin bertambah takutnya, dilihatnya sebuah kereta melaju dengan kecepatan sedang, Rommy tidak peduli ketika Nadia menjerit memberi peringatan. Rommy terus tertawa puas. Di sebuah tikungan, Rommy baru sadar sebuah kereta akan melintas rel tanpa pintu lintasan. Rommy membanting setir menghindari tabrakan. Tapi mobil sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Sekuat tenaga rem diinjaknya, suaranya menjarit sekeras jeritan Nadia. Semuanya terlambat, Nadia bahkan sudah pingsan sebelumnya. Bruuuuaakkk… mobil SUV yang dikendarai Rommy tertabrak kereta. Mobil jumpalitan, menyeret penumpangnya lebih dari 300 meter. Rommy tidak ingat apa-apa lagi.
Mengenang perilaku kejamnya itu, kini sampai kepada penyesalannya di masa lalu. Bagian kecil dari hatinya itu sekarang menguasai diri Rommy. Kini menjadi kesenangan  hatinya, Rommy belajar mengaji bersama dengan anak-anak di surau. Rommy semangat sekali belajar. Semangat yang menjadi bahan bakar jiwanya, membuatnya melompat jauh untuk memburu nilai-nilai kemuliaan. Semangat itu semakin menyala. Rommy semakin sadar akan kesempatan yang pernah hilang untuk berbuat baik. Surau kecil itu penuh arti bagi Rommy. Terutama bagi hatinya karena kehadiran Rommy telah sampai menjadi bagian dari pecinta Baitullah. Bait demi bait keimanan, Rommy dapatkan di surau sederhana ini. Syair-syair kebenaranNya terpecik pelan dan pasti. Mengkritik dan mencaci keangkuhan yang telah bersemayam cukup lama di relung jiwanya.
Sebuah kabar gembira ketika Rommy dan Ramdhan merencanakan pembangunan surau. Surau yang memang sepatutnya mendapat perbaikan. Tak lama setelah pembangunan surau, terjadi  peristiwa tragis yang tak diduga. Ketika melaut kapal yang diarungi Rommy dan Ramdhan terbalik. Mungkin inilah tanda bahwa syahidnya kematian mereka setelah pembangunan surau. Diantara rahmat Allah, kadang manusia tertimpa musibah yang menjadi pelindung baginya dari penyakit hati dan keburukan akhlak. Maha suci Allah yang merahmati manusia dengan musibah dan ujian. Kini surau itu tepampang papan nama dengan tulisan “AL-GHAZALI”. Nama “GHAZALI”, sebutan khusus untuk Rommy dari Abah saat Rommy mengembara hidup di Samadikun.
KOMENTAR / ULASAN NOVEL
Ketika manusia belum menemui arti hidup, dan Ia kehilangan pijakan untuk menempuh kehidupan, Ia kebingungan mencari jawaban apa penyebab dari kegelisahan hatinya. Seperti halnya yang dirasakan Rommy, nilai kerinduan seorang anak manusia dan fenomena antara rasa dan cinta pada Sang Kholiq.
            Rasa cinta terhadap dunia dengan kuantitas besar, mampu mengidapkan lupa terhadap makna penghambaan kepada Tuhan. Kesombongan yang mampu menghempas kehinaan serta kedzaliman yang menghapus nilai-nilai kemuliaan diri seorang manusia. Ternyata itu semua, hanya mengundang keresahan, kegundahan hidup, dan kegersangan hati yang membakar kelembutan hati manusia.
Dengan hal itu, ketika penyesalan telah hinggap menyibak hati kecil insani, maka seolah menuntut kedamaian, mendambakan sebuah kesejukan hati yang telah lama jauh dari ruang teduh Ilahi. Kini Rommy menyadari perilaku kejamnya takkan mampu memberi kebahagiaan hidup yang kekal. Bahkan menjadi hal tragis ketika kesedihannya tak mungkin mengembalikan Nadia. Keresahan yang tak akan memberi kesempatan, kesempatan membalas kasih sempurna yang diberikan Nadia ketika masih disampingnya.
Melalui pengenalan akan kehidupan baru, kehidupan yang terus berusaha memanggil Nama Rabb-nya. Panggilan yang dilakukan oleh hamba yang dzalim. Rommy mulai menemukan arti dan tujuan hidup. Arti hidup sebab cinta yang menghiasi bukan kemegahan dunia. Tujuan hidup sebab hidup untuk mengabdi pada Tuhan bukan menjadi budak nafsu.

Makna cinta yang menyatakan sebuah pengabdian kepada Tuhan menjadi sumber cahaya hati manusia. Dan sebaliknya adapun kategori Abdullah dengan pengabaian yang besar, inilah makna merugi. Dipastikan bahwa setiap hati kecil manusia sesungguhnya selalu menuntut serta mengharapkan rasa cinta dan kerinduan pada Tuhan Yang Esa, Allah SWT. karena disitulah pusat kedamaian. Kedamaian yang tak tertanding ketika Kasih dan Cinta-Nya telah merangkul hati manusia. Dan Kunci hati yang bersih adalah ketika Ia selalu bertaubat meyakini Tuhannya Maha Pengampun.